Halaman

Jumat, 27 Oktober 2017

Mengenal sejarah di Museum Linggarjati Kuningan

   


Akhirnya setelah sekian lama niatan saya untuk mengunjungi museum terlaksana juga. Sudah lama sebenarnya saya ingin mengajak keluarga, terutama anak-anak untuk mengunjungi museum. Saya ingin kesukaan saya tentang sejarah menular pada mereka. Karena kami biasa pergi rombongan satu keluarga jadi niatan itu susah terlaksana. Mengingat mereka sepertinya kurang tertarik  kalau diajak ke museum. Karena bagi sebagian orang museum bukanlah tempat yang menarik dan membosankan,itu yang dapat saya simpulkan dari pendapat mereka.  Tapi Alhamdulillah akhirnya kami dapat kesana juga bersama adik dan keponakan-keponakan yang dari Bekasi.

Museum Linggarjati ini letaknya di Kuningan jawa Barat,sekitar 1,5 jam perjalanan dari rumah saya. Mampir ke museum ini sebenarnya juga tidak diagendakan sebelumnya. Terlintas saja diperjalanan sewaktu kami selesai berenang dari sebuah water park di kota kuningan juga. Dengan panduan GPS akhirnya sampai jugalah kami di Museum.

Memasuki museum kita diharuskan membeli tiket seharga 3ribu rupiah kalau tidak salah. Sempat kaget juga pada awalnya,tiketnya kok murah banget ya. Di ruang pertama yang juga sebagai tempat penjualan tiket, terpasang di dinding foto-foto tentang sejarah museum ini beserta penjelasannya. Kebetulan saat kami datang guide sedang menjelaskan tentang sejarah museum pada beberapa pengunjung. Dijelaskan bahwa museum Linggarjati ini awalnya adalah rumah seorang wanita bernama "Jasitem" yang dinikahi oleh warga Belanda. Dijelaskan pula sang pemilik rumah akhirnya pergi ke Belanda dan menetap sampai meninggalnya di Belanda.






                                        Diorama yang menggambarkan situasi perundingan

Kemudian kami memasuki ruang tengah yang berisi meja-meja yang digunakan untuk perundingan antara pemeintah Indonesia dan pemerintah Belanda. Meja dan kursinya masih asli dan terawat dengan baik. Di ruang ini juga kita bisa melihat diorama suasana saat perundingan tersebut terjadi. Pada dinding ruangan terpampang pula foto-foto utusan dari pemerintah Indonesia maupun pemerintah Belanda yang mengikuti perundingan tersebut. Bila kita jalan lurus selanjutnya kita akan menemukan kamar-kamar yang digunakan para utusan perundingan untuk tidur. Memasuki ruangan saya merasakan suasana tempo dulu,agak-agak merinding juga sebenarnya. Suasananya membuat kita seperti berada di masa lalu.  Padahal ruangan-ruangan tersebut kondisinya bersih dan terawat dengan baik. Dikamar-kamar ini kita akan menemukan ranjang,wastafel,lemari dan kursi antik dari jaman dahulu. Ada pula foto-foto utusan yang bermalam di kamar tersebut beserta keterangan nama-nama mereka.






                                                      Foto di salah satu kamar delegasi

Apabila kita belok kanan,kita akan sampai pada sebuah koridor. Di samping koridor ada juga ruangan-ruangan lain. Ada ruangan dengan 4 buah kursi di dalamya, dan tempat yang sepertinya untuk kamar mandi. Selanjutnya kita akan menjumpai pintu keluar. wah....saya gak nyangka pemandangan di luar sangat bagus. view di samping dan di depan museum adalah halaman luas yang ditumbuhi rumput hijau,bunga-bungaan dan beberapa tumbuhan yang membuat rindang tempat ini. Jadi mirip-mirip seperti taman-taman diluar negeri. Disini juga disediakan tikar-tikar untuk kita bisa duduk-duduk santai,dan yang enaknya lagi semuanya gratis. Padahal sebelumnya saya mengira tikar-tikar tersebut harus disewa. Di sini juga banyak spot-spot bagus untuk foto-foto lho. Mengunjungi museum ini bisa dijadikan alternatif liburan yang murah meriah.







                                               Beristirahat di halaman samping museum

Rupanya kunjungan pertama kali ke museum cukup menarik anak dan keponakan-keponakan saya. Sampai rumah pun mereka masih membicarakannya. Semoga suatu saat saya bisa mengajak mereka untuk mengunjungi museum lain yang lebih besar dan menarik. Alternatif liburan yang menambah wawasan agar mereka tidak hanya tahu tentang mall saja.

Sudah ke museum mana sajakah kalian?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar