Sesuai janji saya, kali ini saya akan berbagi penjelajahan saya ke hutan mangrove pandan sari untuk yang kedua kalinya. Niatan untuk kembali kesini sebenarnya karena penasaran melihat dari foto-foto dari saudara yang baru ke sana. Dari fotonya sepertinya ada beberapa perubahan di tempat tersebut.
Perjalanan kali ini menuju lokasi hutan mangrove cukup menyenangkan, karena jalan yang dulunya rusak sekarang sudah semulus jalan tol. Karena jalannya lancar, saya bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan. Dipinggir utara jalan tampak pohon cemara ditanam rapi berjejeran, berlatarkan gunung selamet dengan puncaknya yang berwarna kebiruan dan sebagian tertutup awan. Keren banget.....bisa menemukan pemandangan seperti ini.
Setelah membeli tiket dan kami memasuki parkiran, saya agak kaget juga karena rame banget. Parkiran motor penuh, apalagi mobil parkir sampai agak jauh di depan rumah-rumah penduduk. Padahal waktu pertama kami kesini mobil masih bisa di hitung dengan jari. Dan harga tiketnya pun naik. Kalau dulu dewasa 15ribu, sekarang jadi 20 ribu di akhir pekan. Mungkin karena sekarang sudah terkenal ya.
Di lokasi sebelum menyebrang pun sekarang bertambah banyak warung-warung berjualan. Dari mulai rumah makan, toko souvenir dan arena sepeda air. Kalau dulu cuma ada beberapa warung, itupun hanya menjual minuman dan makanan ringan. Dan seperti sudah diperkirakan, antrian naik perahu panjang dan rame banget. Pengunjung yang datang pun lebih beragam, malah kalau diperhatikan kebanyakan keluarga. Berbeda dengan kunjungan kami yang pertama yang banyak dipenuhi oleh ABG .
Rupanya air tambak sedang surut, jadi perahu yang kami tumpangi lambat bahkan beberapa kali tersendat jalannya. Air yang surut cukup menyulitkan pengunjung, karena naik turun perahu jadi lebih susah. Makanya saya merasa kok jauh banget ya turun ke perahu, padahal dulu sekali lompat bisa naik dan turun dari perahu. Karena air sedang surut akar-akar pohon bakau jadi terlihat jelas. Bahkan dibeberapa tempat tanahnya sampai terlihat. Mendekati dermaga saya melihat ada beberapa saung dikejauhan. Dulu belum ada saung itu. Saung-saung tersebut menurut saya menambah keindahan, karena tampak seperti resort-resort. Dan dipagar jalan dari dermaga sudah ada tulisan mangrove pandan sari berukuran cukup besar dan berwarna hijau. Itu juga baru ada, dulu belum ada.
Dan akhirnya kami pun sampai di dermaga. Saya pun agak pangling dengan suasana dermaga. Kalau dulu hanya berupa tempat tunggu panggung yang ditutupi kain jaring, sekarang ada beberapa fasilitas tambahan. Terlihat ada musholla , toilet dan spot untuk foto dengan tulisan-tulisan pada papan. Kami tidak sempat foto-foto karena suasananya cukup rame. Kami langsung saja melanjutkan perjalanan melalui jalur trekking yang ada. Ternyata saung-saung yang saya liat dari kejauhan adalah rumah makan yang baru berdiri.
Suasana saat itu cukup ramai, kami selalu berpapasan dengan orang-orang sepanjang jalur trekking. Bangku yang disediakan untuk pengunjung pun penuh semua. Beberapa saung yang disediakan untuk istirahat juga penuh semua. Banyak sekali rombongan yang datang kali ini. Bahkan mereka membawa bekal makan sendiri. Disana juga ada penambahan beberapa area, berupa spot untuk foto dan mushola beserta toiletnya yang berada di ujung jalur trekking. Pengunjung pun lebih beraneka ragam dan banyak dari tempat yang jauh juga. Ada yang dari purwokerto, tegal, cirebon. Bahkan melihat dari penampilan dan cara mereka berbicara beberapa pengunjung saya pastikan berasal dari jakarta. Sebenernya saya lebih menikmati tempat ini waktu kunjungan saya yang pertama. Kalau sekarang meskipun tempatnya lebih baik tapi karena pengunjungnya terlalu rame saya jadi kurang menikmatinya.
Jembatan pink, salah satu spot foto favorit
Untuk trekking kali ini kami mengambil jalur yang berbeda dari kedatangan yang kemarin. Kali ini jalur yang kami lewati berakhir pada sebuah gapura. Di depan gapura ada area tanah yang cukup lapang dengan sungai kecil di sebelahnya. Dan diseberang sungai tampak berjejer warung-warung makan. Saya di sini sebenarnya agak bingung, kenapa jadi ada area daratan disini. Akhirnya setelah sekitar 2 jam disini kami memutuskan pulang. Di dermaga penyebrangan suasana sangat ramai dan penuh. Tampak beberapa orang membawa perlengkapan seperti tikar, termos air, termos nasi , keranjang. Terlihat seperti orang mau pindahan dari pada orang mau piknik. Belum lagi suara tangis dari beberapa bayi dan balita. Berasa seperti sedang menunggu kapal di pelabuhan. Ditambah rombongan para ema-ema yang tidak sabaran dalam mengantri. Sampai-sampai suami saya beberapa kali mundur dari antrian karena di dorong- dorong para ema-ema. Benar- benar the power of ema-ema deh. Saya jadi kesal kan, sudah cape-cape ngantri malah mundur. Kami pun akhirnya menepi dari antrian, menunggu para ema-ema tersebut diangkut dengan perahu.
Setelah penantian yang lumayan lama kami pun akhirnya bisa naik perahu. Walaupun ada insiden kecil. Waktu itu suami saya turun pertama, lalu bapak yang jagain perahu malah melepas tali biar perahunya jalan. Saya panik kan waktu itu, gawat kalau saya terpisah sama suami. Karena anak-anak sama saya semua. Sedangkan untuk turun ke perahu sendiri saja susah, apalag ini bawa 2 anak. Saya langsung saja tarik-tarik itu bajunya si bapak. Hadeh si bapak ini apa ga lihat kami ini dari tadi satu rombongan. Untungnya bapaknya ngerti karena waktu itu saya sampai tidak bisa ngomong, cuma tarik-tarik baju sambil bilang "pak-pak" saking paniknya.
Saran saya kalau kita mau ke sini hari minggu sebaiknya memilih waktu kalau pagi, pagi sekalian. Kalau tidak habis dhuhur pengunjungnya tidak terlalu penuh. Tapi kalau jam 10 sampai jam 12 ramai banget. Satu lagi karena untuk mencapai lokasi lumayan agak ekstrim sebaiknya tidak membawa anak dibawah usia 3 tahun. Karena saya melihat banyak bayi dan batita rewel dan menangis.
Itulah pengalaman saya menjelajahi hutan mangrove pandan sari. Tulisan yang lumayan panjang ternyata. Semoga bisa menjadi gambaran bagi yang belum pernah ke sini.
Terima kasih



Tidak ada komentar:
Posting Komentar