Halaman

Jumat, 27 Oktober 2017

Mengenal sejarah di Museum Linggarjati Kuningan

   


Akhirnya setelah sekian lama niatan saya untuk mengunjungi museum terlaksana juga. Sudah lama sebenarnya saya ingin mengajak keluarga, terutama anak-anak untuk mengunjungi museum. Saya ingin kesukaan saya tentang sejarah menular pada mereka. Karena kami biasa pergi rombongan satu keluarga jadi niatan itu susah terlaksana. Mengingat mereka sepertinya kurang tertarik  kalau diajak ke museum. Karena bagi sebagian orang museum bukanlah tempat yang menarik dan membosankan,itu yang dapat saya simpulkan dari pendapat mereka.  Tapi Alhamdulillah akhirnya kami dapat kesana juga bersama adik dan keponakan-keponakan yang dari Bekasi.

Museum Linggarjati ini letaknya di Kuningan jawa Barat,sekitar 1,5 jam perjalanan dari rumah saya. Mampir ke museum ini sebenarnya juga tidak diagendakan sebelumnya. Terlintas saja diperjalanan sewaktu kami selesai berenang dari sebuah water park di kota kuningan juga. Dengan panduan GPS akhirnya sampai jugalah kami di Museum.

Memasuki museum kita diharuskan membeli tiket seharga 3ribu rupiah kalau tidak salah. Sempat kaget juga pada awalnya,tiketnya kok murah banget ya. Di ruang pertama yang juga sebagai tempat penjualan tiket, terpasang di dinding foto-foto tentang sejarah museum ini beserta penjelasannya. Kebetulan saat kami datang guide sedang menjelaskan tentang sejarah museum pada beberapa pengunjung. Dijelaskan bahwa museum Linggarjati ini awalnya adalah rumah seorang wanita bernama "Jasitem" yang dinikahi oleh warga Belanda. Dijelaskan pula sang pemilik rumah akhirnya pergi ke Belanda dan menetap sampai meninggalnya di Belanda.






                                        Diorama yang menggambarkan situasi perundingan

Kemudian kami memasuki ruang tengah yang berisi meja-meja yang digunakan untuk perundingan antara pemeintah Indonesia dan pemerintah Belanda. Meja dan kursinya masih asli dan terawat dengan baik. Di ruang ini juga kita bisa melihat diorama suasana saat perundingan tersebut terjadi. Pada dinding ruangan terpampang pula foto-foto utusan dari pemerintah Indonesia maupun pemerintah Belanda yang mengikuti perundingan tersebut. Bila kita jalan lurus selanjutnya kita akan menemukan kamar-kamar yang digunakan para utusan perundingan untuk tidur. Memasuki ruangan saya merasakan suasana tempo dulu,agak-agak merinding juga sebenarnya. Suasananya membuat kita seperti berada di masa lalu.  Padahal ruangan-ruangan tersebut kondisinya bersih dan terawat dengan baik. Dikamar-kamar ini kita akan menemukan ranjang,wastafel,lemari dan kursi antik dari jaman dahulu. Ada pula foto-foto utusan yang bermalam di kamar tersebut beserta keterangan nama-nama mereka.






                                                      Foto di salah satu kamar delegasi

Apabila kita belok kanan,kita akan sampai pada sebuah koridor. Di samping koridor ada juga ruangan-ruangan lain. Ada ruangan dengan 4 buah kursi di dalamya, dan tempat yang sepertinya untuk kamar mandi. Selanjutnya kita akan menjumpai pintu keluar. wah....saya gak nyangka pemandangan di luar sangat bagus. view di samping dan di depan museum adalah halaman luas yang ditumbuhi rumput hijau,bunga-bungaan dan beberapa tumbuhan yang membuat rindang tempat ini. Jadi mirip-mirip seperti taman-taman diluar negeri. Disini juga disediakan tikar-tikar untuk kita bisa duduk-duduk santai,dan yang enaknya lagi semuanya gratis. Padahal sebelumnya saya mengira tikar-tikar tersebut harus disewa. Di sini juga banyak spot-spot bagus untuk foto-foto lho. Mengunjungi museum ini bisa dijadikan alternatif liburan yang murah meriah.







                                               Beristirahat di halaman samping museum

Rupanya kunjungan pertama kali ke museum cukup menarik anak dan keponakan-keponakan saya. Sampai rumah pun mereka masih membicarakannya. Semoga suatu saat saya bisa mengajak mereka untuk mengunjungi museum lain yang lebih besar dan menarik. Alternatif liburan yang menambah wawasan agar mereka tidak hanya tahu tentang mall saja.

Sudah ke museum mana sajakah kalian?


Kamis, 26 Oktober 2017

(review) Miranda Hair Shampo

           
Rambut saya itu jenisnya tipis, halus dan sedikit lagi. Yang rambutnya seperti saya pasti tahu ya rasanya punya rambut jenis ini. Mau diapa-apain susah. Mau dipanjangin kelihatan tambah sedikit. Karena saking kepenginnya punya rambut tebal, saya sudah banyak melakukan perawatan rambut dari SMP lho. Mulai dari pakai hair tonic sampai memakai bahan-bahan tradisional seperti lidah buaya, wortel, dan air kelapa. Tapi hasilnya masih kurang memuaskan.

Sebelum ini sebenarnya saya sudah menemukan produk penyubur rambut yang lumayan kelihatan hasilnya. Namanya 'capcap rambut', produk ini termasuk jamu-jamuan. Berbentuk minyak, berwarna hijau dan beraroma jamu. Bahkan adik saya yang tinggal di Bekasi sampai dititipi para tetangganya beberapa kali. Tapi sayang produk ini sudah tidak keluar lagi karena pabrik yang memproduksinya yaitu 'Ny. Meneer' sudah tutup. Sayang sekali sebenarnya, semoga nantinya produknya bisa diproduksi kembali. Karena ini produk bagus resep asli dari indonesia berbahan alami.

Ketemu sama shampo Miranda ini termasuk kebetulan juga. Waktu itu pas lagi belanja di sebuah toserba iseng-iseng lihat-lihat shampo yang tidak pernah saya beli. Karena ada tulisan 'hair grow' membuat saya langsung tertarik membelinya. Kebetulan saya lagi nyari pengganti si capcap rambut itu. Saya juga baru tahu kalau Miranda mengeluarkan produk shampo, setahu saya produk Miranda yang terkenal itu pewarna rambut. Baiklah sekarang kita bahas shampo Miranda ini.

Baca juga : Benarkah pasta gigi NASA ampuh mengurangi nyeri gigi?

Kemasan

Shampo Miranda ini dikemas dalam botol putih dan hanya memiliki satu kemasan berisi 200ml.  Dengan label perpaduan antara warna kuning dan biru dongker, bergambar 2 ekor kuda berwarna hitam. Model botol dan tutupnya berbeda dengan botol-botol shampo pada umumnya. Hanya dengan menekannya, tutup sudah terbuka. Dengan tutup bentuk ini juga shampo lebih terkontrol ketika dikeluarkan.







Kandungan dan khasiat

Dalam keterangannya,kandungan utama dari shampo ini adalah:
  1. Biotynoil Tripiptide-1 yang membantu mengurangi rambut patah dan membantumerawat pertumbuhan rambut yang sehat.
  2. Moroccan Argan Oil yang berfungsi untuk menutrisi dan melembabkan rambut
  3. Multivitamin yang dapat memberi nutrisi,melembabkan dan membuat rambut tampak bersinar

Harga 

Harga dari shampo ini cukup terjangkau yaitu antara 24ribu-26ribu rupiah. Tergantung dimana kita membelinya.

Baca Juga REVIEW: Shampo Vienna Blue Horse Herbal Growth

Warna dan Aroma 

Miranda shampo ini memiliki warna putih. Sedangkan aromanya menurut saya kurang enak,walau saya masih bisa menerimanya. Tapi orang-orang disekitar saya kadang protes baunya.





Hasilnya 

Saya cukup amazing lho dengan hasilnya, karena pada awalnya saya tidak terlalu yakin shampo ini bisa menunjukan hasil sesuai dengan klaimnya. Baru menghabiskan sebotol hasilnya  sudah kelihatan,kepala saya mulai bermunculan rambut-rambut baru. Bahkan bagian di dekat dahi yang tadinya licin terlihat rambut-rambut halus mulai bermunculan. kalau orang daerah saya menyebutnya rambut kalong. Kalau sekarang sih rambut saya lebih banyak dan tebal dari pada sebelum menggunakan shampo ini.Tapi sayangnya lama-lama muncul ketombe di kepala saya. Tapi biasanya saya selingi dengan shampo anti ketombe yang biasa saya pakai.
Entah sudah berapa botol saya membeli shampo ini. Walau kadang berketombe,tapi karena melihat hasilnya jadi sampai sekarang masih saya pakai terus. Menurut saya shampo ini sepertinya mirip dengan shampo kuda mane n tail yang sempat booming itu. Baik dari segi kemasan maupun khasiatnya. Bedanya kalau shampo Miranda ini harganya kisaran puluhan ribu,kalau mane n tail harganya ratusan ribu. Jadi shampo ini cukup recomended bagi yang menginginkan rambutnya lebih lebat. Mungkin juga bisa dipakai bagi yang sedang mengalami kerontokan ataupun yang sedang mengalami penipisan rambut.

Selamat mencoba.

 



Rabu, 25 Oktober 2017

Bergabung di Komunitas Kristik Nusantara


Komunitas Kristik Nusantara adalah komunitas yang beranggotakan para pecinta kristik di seluruh Indonesia. Karena saat ini saya lagi menggeluti hobi lama yaitu kristik, maka browsing lah saya tentang perkembangan kristik sekarang ini. Dari hasil browsing itulah saya mengenal komunitas ini dari beberapa blog yang membahas tentang kristik dan kemudian bergabung dikomunitas ini lewat facebook. Disini para anggotanya bisa mengajukan pertanyaan, berbagi info dam tips tentang kristik. Dapat pula mengupload hasil kristik yang telah di buat. Bahkan kita juga dapat berjualan, tentunya barang-barang yang dijual harus berkaitan dengan kristik. Di facebook KKN ada juga peraturan-peraturan yang harus dipenuhi oleh para anggotanya. Jika peraturan dilanggar kita dapat dikeluarkan dari keanggotaan. Ada juga komunitas kristik dari kota-kota di Indonesia yang mengupload foto-foto kegiatannya.

Setelah bergabung dikomunitas ini saya mendapatkan banyak ilmu baru tentang dunia perkristikan. Ternyata selama ini pengetahuan saya tentang kristik gak ada apa-apanya dibandingkan senior-senior yang ada disana. Sayang dikomunitas tersebut yang sering kopdar  dari kota-kota besar. Saya jadi ngiri lihat mereka-mereka yang satu hobi bisa berkumpul. Begitulah kalau tinggal di kota kecil .

Setelah kemarin-kemarin browsing mencari kristik kit, akhirnya pilihan saya jatuh pada kristik cherish dengan pola jam yang terlihat cukup klasik. Dan akhirnya paket pesanan saya datang juga.




                   Inilah proyek baru saya

Paket ini saya beli dengan harga sekitar 106ribu rupiah di online shop aneka kristik lewat shopee. Didalamnya berisi kain 14CT berwarna putih polos, kertas pola, jarum dan benang jenis DMC. Jenis benang ini termasuk baru untuk saya. Helaian benangnya lebih tipis. Karena dulu saya selalu membeli paket dari orchid, dimana benang yang digunakan adalah benang wol. Pola pada kertasnya meskipun berwarna tapi tulisannya kecil-kecil sekali, sehingga saya kesulitan kalau mengerjakan kristik dimalam hari. Sedangkan pola kertas pada orchid meskipun tidak berwarna, tapi besar-besar tulisannya. Meskipun harus bergantian dengan nulis di blog, semoga kit kristik ini bisa terselesaikan. Sudah ga sabar lihat hasilnya dan saya sudah mupeng lihat kit-kit lain soalnya.

Minggu, 22 Oktober 2017

Trip Ke Hutan Mangrove Pandan Sari (edisi 2)







Sesuai janji saya, kali ini saya akan berbagi penjelajahan saya ke hutan mangrove pandan sari untuk yang kedua kalinya. Niatan untuk kembali kesini sebenarnya karena penasaran melihat dari foto-foto dari saudara yang baru ke sana. Dari fotonya sepertinya ada beberapa perubahan di tempat tersebut.

Perjalanan kali ini menuju lokasi hutan mangrove cukup menyenangkan, karena jalan yang dulunya rusak sekarang sudah semulus jalan tol. Karena jalannya lancar, saya bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan. Dipinggir utara jalan tampak pohon cemara ditanam rapi berjejeran, berlatarkan gunung selamet dengan puncaknya yang berwarna kebiruan dan sebagian tertutup awan. Keren banget.....bisa menemukan pemandangan seperti ini. 


Setelah membeli tiket dan kami memasuki parkiran, saya agak kaget juga karena rame banget. Parkiran motor penuh, apalagi mobil parkir sampai agak jauh di depan rumah-rumah penduduk. Padahal waktu pertama kami kesini mobil masih bisa di hitung dengan jari. Dan harga tiketnya pun naik. Kalau dulu dewasa 15ribu, sekarang jadi 20 ribu di akhir pekan. Mungkin karena sekarang sudah terkenal ya.

Di lokasi sebelum menyebrang pun sekarang bertambah banyak warung-warung berjualan. Dari mulai rumah makan, toko souvenir dan arena sepeda air. Kalau dulu cuma ada beberapa warung, itupun hanya menjual minuman dan makanan ringan. Dan seperti sudah diperkirakan, antrian naik perahu panjang dan rame banget. Pengunjung yang datang pun lebih beragam, malah kalau diperhatikan kebanyakan keluarga. Berbeda dengan kunjungan kami yang pertama yang banyak dipenuhi oleh ABG .

Rupanya air tambak sedang surut, jadi perahu yang kami tumpangi lambat bahkan beberapa kali tersendat jalannya. Air yang surut cukup menyulitkan pengunjung, karena naik turun perahu jadi lebih susah. Makanya saya merasa kok jauh banget ya turun ke perahu, padahal dulu sekali lompat bisa naik dan turun dari perahu. Karena air sedang surut akar-akar pohon bakau jadi terlihat jelas. Bahkan dibeberapa tempat tanahnya sampai terlihat. Mendekati dermaga saya melihat ada beberapa saung dikejauhan. Dulu belum ada saung itu. Saung-saung tersebut menurut saya menambah keindahan, karena tampak seperti resort-resort. Dan dipagar jalan dari dermaga sudah ada tulisan mangrove pandan sari berukuran cukup besar dan berwarna hijau. Itu juga baru ada, dulu belum ada. 




Dan akhirnya kami pun sampai di dermaga. Saya pun agak pangling dengan suasana dermaga. Kalau dulu hanya berupa tempat tunggu panggung yang ditutupi kain jaring, sekarang ada beberapa fasilitas tambahan. Terlihat ada musholla , toilet dan spot untuk foto dengan tulisan-tulisan pada papan. Kami tidak sempat foto-foto karena suasananya cukup rame. Kami langsung saja melanjutkan perjalanan melalui jalur trekking yang ada.  Ternyata saung-saung yang saya liat dari kejauhan adalah rumah makan yang baru berdiri.

Suasana saat itu cukup ramai, kami selalu berpapasan dengan orang-orang sepanjang jalur trekking. Bangku yang disediakan untuk pengunjung pun penuh semua. Beberapa saung yang disediakan untuk istirahat juga penuh semua. Banyak sekali rombongan yang datang kali ini. Bahkan mereka membawa bekal makan sendiri. Disana juga ada penambahan beberapa area, berupa spot untuk foto dan mushola beserta toiletnya yang berada di ujung jalur trekking. Pengunjung pun lebih beraneka ragam dan banyak dari tempat yang jauh juga.  Ada yang dari purwokerto, tegal, cirebon. Bahkan melihat dari penampilan dan cara mereka berbicara beberapa pengunjung saya pastikan berasal dari jakarta. Sebenernya saya lebih menikmati tempat ini waktu kunjungan saya yang pertama. Kalau sekarang meskipun tempatnya lebih baik  tapi karena pengunjungnya terlalu rame saya jadi kurang menikmatinya.



                                                        Jembatan pink, salah satu spot foto favorit


Untuk trekking kali ini kami mengambil jalur yang berbeda dari kedatangan yang kemarin. Kali ini jalur yang kami lewati berakhir pada sebuah gapura.  Di depan gapura ada area tanah yang cukup lapang dengan sungai kecil di sebelahnya. Dan diseberang sungai tampak berjejer warung-warung makan. Saya di sini sebenarnya agak bingung,  kenapa jadi ada area daratan disini.  Akhirnya setelah sekitar 2 jam disini kami memutuskan pulang. Di dermaga penyebrangan suasana sangat ramai dan penuh. Tampak beberapa orang membawa perlengkapan seperti tikar, termos air, termos nasi , keranjang. Terlihat seperti orang mau pindahan dari pada orang mau piknik. Belum lagi suara tangis dari beberapa bayi dan balita. Berasa seperti sedang menunggu kapal di pelabuhan. Ditambah rombongan para ema-ema yang tidak sabaran dalam mengantri. Sampai-sampai suami saya beberapa kali mundur dari antrian karena di dorong- dorong para ema-ema. Benar- benar the power of ema-ema deh. Saya jadi kesal kan, sudah cape-cape ngantri malah mundur. Kami pun akhirnya menepi dari antrian, menunggu para ema-ema tersebut diangkut dengan perahu.

Setelah penantian yang lumayan lama kami pun akhirnya bisa naik perahu. Walaupun ada insiden kecil. Waktu itu suami saya turun pertama, lalu bapak yang jagain perahu malah melepas tali biar perahunya jalan. Saya panik kan waktu itu, gawat kalau saya terpisah sama suami. Karena anak-anak sama saya semua. Sedangkan untuk turun ke perahu sendiri saja susah, apalag ini bawa 2 anak. Saya langsung saja tarik-tarik itu bajunya si bapak. Hadeh si bapak ini apa ga lihat kami ini dari tadi satu rombongan. Untungnya bapaknya ngerti karena waktu itu saya sampai tidak bisa ngomong, cuma tarik-tarik baju sambil bilang "pak-pak" saking paniknya.

Saran saya kalau kita mau ke sini hari minggu sebaiknya memilih waktu kalau pagi, pagi sekalian. Kalau tidak habis dhuhur pengunjungnya tidak terlalu penuh. Tapi kalau jam 10 sampai jam 12 ramai banget. Satu lagi karena untuk mencapai lokasi lumayan agak ekstrim sebaiknya tidak membawa anak dibawah usia 3 tahun. Karena saya melihat banyak bayi dan batita rewel dan menangis.

Itulah pengalaman saya menjelajahi hutan mangrove pandan sari. Tulisan yang lumayan panjang ternyata. Semoga bisa menjadi gambaran bagi yang belum pernah ke sini.

Terima kasih


Rabu, 18 Oktober 2017

Trip Ke Hutan Mangrove Pandan Sari (edisi 1)






Kali ini saya akan berbagi pengalaman ketika menjelajahi hutan mangrove pandan sari yang saat ini lagi ngehits. Terletak di desa Kaliwlingi kabupaten Brebes jawa tengah. Kalau dari pantura jalur barat kita belok ke utara sebelum RS.Bakti Asih. Sedangkan kalau dari jalur timur belok ke utara setelah rumah sakit .  Kenapa saya beri keterangan edisi 1? Karena saya sudah 2 kali ke sana. Dan saya mengalami pengalaman yang berbeda pada saat datang ke sana untuk yang pertama ataupun yang ke 2 kalinya.

Pertama kali saya kesana sekitar 9 bulan yang lalu. Waktu itu baru mulai terkenal, karena penasaran berangkatlah kita kesana naik motor. Tempatnya lumayan jauh sekitar 1 jam perjalanan. Diawal-awal perjalanan sih jalan masih halus. Tapi mendekati lokasi, jalannya banyak yang rusak. Badan terasa pegal-pegal semua karena banyak guncangan dan memakan waktu yang lama juga.

Setelah perjalanan yang melelahkan sampailah kita di lokasi. Waktu itu tiket masuk 15 ribu dewasa dan 10 ribu untuk anak-anak. Tempatnya cukup adem dan asri karena banyak pohon mangrove. Setelah gapura pembelian tiket kita akan masuk ke tempat parkir. Disini ada beberapa warung yang menyediakam makanan ringan dan minuman. Saya kira sudah sampai lokasi, ternyata kita harus menyebrang lagi pakai perahu. 

Waktu kami sampai, antrian naik perahu lumayan panjang. Saat itu saya berasa paling tua sendiri. Pengunjung yang lain kebanyakan ABG. Ukuran perahu yang kami naiki rata-rata memiliki kapasitas untuk 20 orang. Deg-degan juga sebenarnya naik perahu, bayangan saya kalau jatuh gimana. Mana saya ga bisa berenang. Tapi rasa takut jadi hilang karena sepanjang perjalanan pemandangannya bagus menurutku. Aku juga jadi tidak terlalu khawatir, karena yang kami lewati ternyata bukan laut melainkan bekas tambak. Airnya juga tidak terlalu dalam, malah ada nelayan yang ga tau nyari apa sambil jalan diatas tambak. Mungkin saat itu kedalamnya sekitar dada orang dewasa.

Setelah sekitar 10 menit perjalanan, sampailah kami di dermaga. Bagus banget pemandangannya dari situ. Banyak juga yang heboh langsung foto-foto. Kami sih langsung lanjut menjelajah saja. Jalan yang dilalui terbuat dari papan dengan pemandangan tanaman mangrove dikanan dan kirinya. Ada juga bangku panjang di beberapa titik, jadi kalau kita capek jalan bisa istirahat duduk-duduk dulu. Disini banyak juga lho ikan yang memiliki sayap. Kurang tahu juga namanya ikan apa. Di lokasi ini ada beberapa spot yang biasanya sering dijadikan tempat foto-foto. Yaitu jembatan yang bentuknya melengkung ke atas berwarna merah muda, gapura selamat datang dan menara pandang yang cukup tinggi. Disini juga ada beberapa warung sederhana yang menyediakan hidangan seperti ikan bakar, kepiting dan seafood. Saya jadi mikir itu yang jualan pasti repot banget ya. Secara ini tempat kan di tengah-tengah air, harus pakai perahu kalau mau pergi-pergi. Salut sama yang jualan. 




       Bangku untuk tempat beristirahat


    Jalan menuju dermaga penyebrangan 


Sekitar 2 jam kami muter-muter disitu, diselingi makan siang sebelumnya. Ada sedikit insiden ketika naik perahu pulang. Jadi kapal yang kami naiki oleng, terus ada satu penumpang ABG ga tau shock atau takut dia njerit keras banget. Dah begitu sepanjang perjalanan nangis ga berhenti-berhenti. Waktu itu antara kasihan sama pengin tertawa sebenernya.

Itulah pengalaman kami menjelajahi hutan mangrove pandan sari untuk pertama kalinya. Untuk edisi ke 2, ceritanya lebih banyak dan lebih seru tentunya.

Terima kasih





Selasa, 17 Oktober 2017

Kristik

   

          Menekuni  Kembali  Kristik


Kristik atau istilah kerennya  cross stitch mulai saya kenal sekitar 12  tahun  yang lalu. Entah kenapa akhir-akhir ini saya tertarik kembali menekuninya. Kegiatan yang terakhir saya lakukan 8 tahun lalu.Wah.......sudah cukup lama juga ternyata. Dulu pertama kali kenal kristik dari adik perempuanku. Kami berdua sampai berhasil  menyelesaikan  3 buah pola kristik yang   lumayan  besar.  Sebuah kaligrafi     dan   serangkai bung hilang entah kemana.




Kegiatan mengkristik lalu saya  lanjutkan setelah melahirkan anak pertama. Waktu itu memanfaatkan waktu  luang  karena saya juga baru resign  dari   pekerjaan. Dan   sepertinya   kegiatan   mengkristik  pada saat itu tanpa saya sadari telah membantu  saya untuk melewati masa transisi dari seorang wanita pekerja menjadi  ibu rumah tangga.Tapi  sayang pengerjaan pola kristik tersebut tidak sampai selesai. Seingat saya karena ukuran polanya cukup besar dan bayi saya waktu  itu  sudah  mulai  aktif .

Untuk mencari pola kristik saya hunting dibeberapa online shop. Karena untuk mencari kristik di daerah saya sulit. Toko yang  dulu jadi  langganan  saya sudah tidak ada, padahal hanya di toko itulah satu-satunya yang menjual paket  kristik. Setelah browsing  kesana  kemari saya baru tahu ternyata  ada  beberapa  merk kristik yang dipasaran. Selain dari Indonesia ada juga merk dari eropa, cina dan korea. Dulu yang  aku tahu  merk  kristik cuma satu, biasa aku dulu beli merkynya orchid. Baru sekarang aku baru tahu ada merk dome,dimension,soda dll. Polanya juga lebih    modern   dan  variatif.Saya paling suka melihat lihat pola klasik dan pemandangan suasana eropa.Walaupun harganya cukup lumayan, tapi sebandinglah dengan hasilnya.  Berbeda dengan kristik yang selama ini saya ketahui.

Saya juga baru tahu kalau benang kristik itu bermacam-macam. Yang paling bagus adalah jenis DMC  bahkan jadi standart stiching dunia karena warnanya paling bagus dan paling banyak jenisnya.  Ada lagi jenis CMC dari cina,menyerupai DMC tetapi benangnya lebih kasar. Sedangkan benang lokal lebih murah namun terbatas warnanya. Kalau dulu  saya memakai pola dari orchid masih memakai benang wol jadi  terlihat jadul hasilnya. Kalau sekarang kebanyakan  sudah menggunakan benang sulam sehingga hasilnya terlihat lebih modern dan bersih.

Wah.......jadi  ga   sabar   nunggu   paketan kristik saya. Seperti apa isinya nanti saya ceritakan setelah paket datang.

Terima kasih.